Pages

Monday, December 7, 2020

Sih Lintah Cerdik

 Sih Lintah Cerdik

Risma Rombe Pabesak


Cerita ini terinspirasi dari sebuah cerita rakyat yang ada di Toraja.


“Aduh panas sekali cuaca hari ini. Dimana aku harus berendam agar sedikit segar yaa”, ucap sih Kerbau belang  yang harganya miliaran rupiah (di Toraja).

Sih Kerbau belang pun berjalan-jalan menyusuri sawah yang semakin kering akibat musim panas yang semakin lama semakin membakar kulit. Setelah melewati banyak sawah kering, akhirnya sih Kerbau pun menemukan satu kubangan besar yang berisi air. 

“Sepertinya akan segar kalau aku minum semua ini”, ucapnya gembira.

“Halah minum segitu aja bangga,” entah suara dari mana mengagetkan Kerbau.

“Siapa itu barusan?”, tanya Kerbau kebingungan.

“Aku di sini, di kakimu.” jawab sang Lintah yang sedang menghisap darah Kerbau.

“Kamu ini mengagetkan saja”, kata Kerbau sembari melepaskan Lintah tersebut dengan tanduk tajamnya.

“Kamu yakin dapat meminum semua air ini?”, tanya Lintah meragukan sih Kerbau.

“Tentu saja, aku bahkan bisa meminum ketiga kubangan ini hingga bersih”, jawab Kerbau sedikit menyombongkan diri.

“Ha ha ha. Tiga? Sang Kerbau yang katanya hebat dan mahal ini hanya dapat meminum tiga kubangan air? Ternyata kamu payah”, jawab Lintah meledek dan sedikit meremehkan.

“Aku bisa minum lima kubangan. Bahkan aku bisa minum air sungai itu hingga habis,” kata sang Kerbau tak mau kalah.

“Daripada kamu hanya ngomong saja, bagaimana kalau kita buktikan saja?”, tanya sang Lintah

“Ayo, tapi bagaimana denganmu? Apakah kamu bisa menghabiskan satu kubangan ini? Lagi pula aku tidak yakin kamu dapat minum sebanyak ini. Ha ha. Rasanya setengahnya pun tidak akan berkurang”, tantang sih Kerbau yang meremehkan Lintah.

“Kamu meremehkan kemampuanku ya? Ayo kita buktikan saja kalau begitu. Siapa yang dapat menghabiskan air kubangan ini paling banyak, dialah pemenangnya”, kata sang Lintah.

“Oke. Kita mulai ya.”, kata Kerbau memulai perlombaan minum air itu.

Kurang dari lima menit, sang Kerbau sudah hampir menghabiskan setengah dari air yang ada di kubangan. Tidak mau kalah, sang Lintah pun melakukan trik busuknya. Berkat badan kecilnya itu, ia mengubah posisi membelakangi sih Kerbau. Ia pun mulai meminum air dari kubangan tersebut. Hanya saja, sih Lintah cerdik itu meminum air dari kubangannya tetapi mengeluarkannya melalui ujung badannya sehingga air yang ia minum tadi berpindah ke kubangan sang Kerbau. Dengan semangat yang tinggi, sang Kerbau menghabiskan semua air itu lalu mati karena kebanyakan minum air.

-Tamat-


Aku, Bukan Dia

 Aku, Bukan Dia

Risma Rombe Pabesak


  “Lala!!”

  “Sini duduk sini..”

Hmm. Lagi?, batinku.

Hari ini adalah hari pertama sekolah. Seperti biasa, aku harus berlari ke sana kemari untuk mencari ruang kelasku. Sebenarnya tidak terlalu jauh dari kelas 3, kelasku dulu. Hanya saja, aku terlalu malas untuk meladeni hal-hal seperti ini.

 “Tidak papa. Aku duduk di sini aja”, jawabku sambil memaksakan secuil senyum di bibir mungilku.

  “La!! Sini!”, ujar sih Tiara yang dari tadi menawarkan kursi di sampingnya.

  “Aku di sini saja,” balasku mulai risih.

  “Yaudah, aku aja yang pindah ke sini ya?”, katanya sembari memindahkan barang-barangnya.

  “Hm”, jawabku singkat menandakan tak ingin banyak bicara dengannya.

….

  Silahkan cari teman kelompoknya dan bawa alat-alatnya minggu depan.

Kalimat yang menandakan kelas hari ini sudah berakhir.

  “Tiara! Aku masuk kelompokmu yaa”, kata Dimas sedikit berteriak karena selang beberapa kursi dari tempatku.

  “Tidak. Tiara satu kelompok dengan kami”, kata Dinda sih anak nomor 5 dalam kelasku.

  “Siapa yang mau dengan kalian? Aku satu kelompok dengan Lala kok”, kata Tiara tentu membuatku semakin tidak nyaman.

  “Duluan ya”, kataku menghindari drama klasik itu.

  Satu bulan kemudian

  “Lala? Ada yang Ms bisa bantu?”, tanya Ms Shela, wali kelasku.

  “Tidak apa-apa Ms, saya baik-baik saja. Saya ke kelas duluan ya Ms”, kataku sambil pamitan pada Ms Shela.

  Nilai Larisa benar-benar semakin hari semakin anjlok. Kalau begini terus dia bisa tidak naik kelas lima nantinya. Jika ada orangtua siswa lain yang tahu, bisa-bisa mereka protes ke sekolah.

  “Beri saya waktu sebentar lagi Pak,” kata-kata Ms Shela yang masih terdengar hingga aku benar-benar meninggalkan ruangan itu.

….

 “Sesuai janji minggu lalu hari ini kita akan mengumpulkan pace satu hingga tiga,” ucap Ms Mila.

  “La! Sst sttt!”, bisik Tiara di sampingku.

Aku sudah tahu maksudnya. Seperti biasa, aku harus memberikan pace yang sudah ku kerjakan dengan benar padanya. Sedangkan aku, harus menuliskan nama pada pacenya yang masih kosong. Itulah yang kurasakan selama dua tahun terakhir. Aku harus mengerjakan semua tugas, pace, ulangan untuk Tiara. Aku tidak punya cukup keberanian untuk mengatakannya pada guru. Karena selama ini, Tiaralah yang memberiku uang untuk jajan. Yah. Harusnya akulah yang dikenal sebagai anak nomor 1 di kelasku, Bukan Dia, Tiara.


Saturday, September 5, 2020

Sang Putri

 

Sang Putri

Risma Rombe Pabesak

“Bi, tolong bawain coklat kesukaanku.”

“Baik non. Ada lagi biar bibi ambilin sekalian?”

“Mau es krim stoberi juga ya bi.”

Yaa.. begitulah kisah hidup sang Putri di cerita yang didamba-dambakan Karin. Segala yang diinginkannya bisa datang dalam sekejam bahkan tanpa melakukan apapun. Sangat berbeda 180o dengan Karin. Bahkan untuk membayangkannya saja ia tidak berani.

Sejak kecil ia sudah terbiasa hidup sederhana. Orangtuanya adalah seorang petani yang harus banting tulang untuk menghidupi keluarganya.

“Bu, Karin juga mau sekolah seperti kakak.”

“Iya nak. Nanti kalau sudah ada uang ya.”

Lagi-lagi ucapan Karin menyayat hati Bu Ira. Ia bukannya pilih kasih dengan kedua putrinya itu. Tapi tidak ada pilihan lain. Ia sudah berusaha memberikan yang terbaik untuk kedua putrinya.

“Kariiin!”

Suara Cika memecahkan keheningan keduanya. Karin yang semula berada tepat di depan ibunya, sontak berlari menuju pintu untuk bertemu teman kecilnya itu.

“Ternyata Cika to?”

“Iya, main yukk di rumahku.”

“Buuu, Karin pamit main ke rumah Cika yaaa.”

“iyaa. Nanti pulangnya jangan terlalu sore yaa.”

Beruntungnya Cika datang di saat yang tepat. Bu Ira takut mengucapkan kalimat yang menyakiti hati putri bungsunya itu.

....

“Karin, ini boneka baruku. Karena ada dua, satunya buat kamu ya.”

“Beneran buat aku?” tanya Karin kegirangan.

“Iyaa.”

Dunia sang putri tidak hanya ada film-film. Ternyata ada di sekitar Karin juga. Sahabat sekaligus tetangganya itu juga begitu mudah mendapatkan apa yang diinginkan. Mereka sudah berteman sejak umur 2 tahun, tepatnya sejak 5 tahun yang lalu.

“Eh, anak papa lagi main apa sama Karin?”

“Main boneka om.”

Suara berat itu justru membuat senyum Cika yang tadinya ceria, perlahan hilang. Ia tidak suka mendengar suara itu. Kesibukan Pak Arya sejak kecil membuatnya tidak begitu dekat dengan Cika. Saking jarang bersama papanya, Cika marah setiap kali mendengar suaranya.

Sejak ibunya meninggal beberapa tahun yang lalu, ia hanya bersama papa dan pengasuhnya. Tapi papanya selalu saja sibuk dengan pekerjaannya. Berbeda dengan Karin yang punya ayah dan ibu yang selalu bersamanya.

Tuesday, August 18, 2020

Sendiri dalam Ramai

 

Dentingan alarm yang berbunyi membuat Tesha beranjak dari tidurnya. Baru saja ia memejamkan matanya, namun kicauan burung sudah terdengar. Fajar kali ini masih saja tetap sama seperti hari kemarin. Ada gunda yang mendalam dalam hatinya yang membuat ia kembali merenung.

          “Chaca!!! Chaa!! Bangun dan siapkan sarapan untuk bapak,” teriakan ayahnya membuat ia bangun dari alam pikirannya.

          Segera setelah teriakan ayahnya hilang dibalik langit-langit kamar, ia bergegas ke dapur dan menyiapkan sarapan untuk ayah dan adik-adiknya. Ibunya sudah berangkat bekerja sebelum Tesha dan adik-adiknya bangun.

          Sejak kecil keluarga Tesha memanggilnya Chaca. Ia adalah seorang mahasiswa semester 4 yang menjadi tulang punggung keluarganya sejak ia berumur 17 tahun.

          Tak mudah baginya untuk menjalani hidup yang seperti itu. Semenjak perusahaan ayahnya bangkrut ia harus bekerja keras membanting tulang untuk mencari nafkah. Ia menjadi seorang guru les yang pendapatannya hanya cukup untuk menghidupi keluarga besarnya. Ayahnya belum juga mendapatkan pekerjaan selama 3 tahun terakhir.

          “Bapak suruh kamu memasak! Bukannya ngelamun,” sentak ayahnya di depan pintu dapur.

          “iya pak” jawabnya.

          “Tia!! Fia! Ayo makan keburu dingin makanannya,” teriak Pak Hartono ayah Tesha.

          Tia dan Fia adalah adik dari Tesha. Mereka adalah anak kembar yang kini berada di bangku SMP. Sejak dulu Tesha merasa perlakuan ayahnya sangat berbeda jika bersama dengan kedua adiknya dibandingkan saat bersamanya. Ayahnya sangat memanjakan kedua adiknya itu.

          “Kapan kamu mulai ngelesin lagi?” tanya Pak Hartono.

          “Besok yah liburan semester kan sudah selesai,” jawab Tesha.

          “Berapa orang? kamu harus bekerja keras mulai sekarang, kontrak rumah kita akan habis bulan depan,” kata Pak Hartono sambil menghabiskan kunyahan terakhirnya.

          “iya yah sekarang tinggal 13 orang soalnya yang kemarin udah pada lulus. Tapi nanti Chaca akan promosiin tempat les ini lagi kok,” jawab Tesha.

          Ia kembali membereskan piringnya dan segera bersiap ke kampus. Sejujurnya ada gunda dalam hati Tesha. Rasanya ia ingin berhenti kuliah dan bekerja bersama ibunya sebagai pelayan di sebuah rumah makan padang. Upahnya tak banyak, jika dibanding dengan pendapatan Tesha sebagai guru les. Namun, tak ada pilihan lain. Ibunya harus bekerja.

.....

          Berat rasanya ia menginjakkan kaki di depan gedung tempatnya berkuliah. Tempat yang membuatnya selalu ingin cepat pulang. Lagi pula ia merasa tak pantas di sana. Hanya anak-anak dari jejeran jas rapi dan mobil mewah yang ada di sana. Hanya ia sendiri saja. Seorang anak yang berusaha melupakan bahwa ia pernah berada di jejeran orang tersebut. Setiap memandang wajah-wajah itu, rasanya ia ingin segera kembali dan bekerja saja.

          “Tesha, bagaimana laporan beasiswamu, Apakah kamu sudah mengumpulkannya?” tanya Pak Hadi.

          “iya pak sudah saya antarkan ke TU fakultas,” jawabnya.

          “kalau begitu silakan antarkan absen ini ke meja saya, ada yang perlu saya bicarakan dengan kamu,” lanjut Pak Hadi.

          Langkah kaki Tesha menuju ruang dosen mengiringi lamunannya. Ada banyak pertanyaan dalam hatinya. Apakah Pak Hadi akan menanyakan tentang beasiswa atau bagaimana, ia juga tak tahu.

          “Bagaimana Cha? Saya perlu klarifikasi mengenai nilai ini?” tanya Pak Hadi.

          Belum juga Tesha menjawab, Pak Hadi sudah melanjutkan, “kamu adalah mahasiswa beasiswa Cha. Tidak pantas jika kamu melakukan hal seperti itu. Bagaimana jika pihak fakultas tahu bahwa kamu sudah beberapa kali melakukan plagiat  pada beberapa tugasmu? Kamu bisa dikeluarkan”.

          “Iya pak saya tahu, saya minta maaf,” jawab Tesha.

          “Saya tidak mau mendengar alasan seperti ini lagi. Saya tidak akan memberitahu dosen lain tapi ini adalah kesempatan terakhirmu,” lanjut Pak Hadi.

          Rasanya dunia ini tak adil. Rasa gundah yang ada dalam hati Tesha semakin mendalam. Ia yang berusaha mati-matian justru mendapat caci yang merobek hatinya. Hati itu mungkin sudah sekeras batu, sudah sangat lama ia memendamnya. Langkah kakinya semakin berat menusuri teras-teras kampus yang dipenuhi manusia yang berbeda dengannya. Baru saja ia lepas dari Pak Hadi, ia harus mendengar cemoohan tak mendukung dari teman sekelasnya.

          “Dia itu sebenarnya kaya atau miskin sih? Kok bisa orang kaya dia berada di sini?” sindir Cindy sih anak pengusaha kaya raya yang sekelas dengan Tesha.

          “Aku sih ga tahu,” jawab Mila yang berada di dekat Cindy.

          Cindy merasa dirinya sangat wajar menghina orang seperti Tesha. Tak senang rasanya melihat cewek menarik dengan kecerdasan yang luar biasa seperti Tesha. Ia merasa iri sebab Tesha sering mendapat nilai yang jauh lebih baik daripada dirinya. Hal itulah yang membuatnya selalu membeli jawaban dari semua tugas kuliahnya. Ia tahu bahwa Tesha adalah orang yang sangat membutuhkan uang tapi ia berlaku seolah ia tak tahu. Cindy adalah wanita yang licik sebab ia ingin menjatuhkan Tesha di depan dosen dan teman-temannya.

          Sudah berjalan hampir 2 tahun namun Tesha tak juga menemukan teman yang mampu mengerti hidupnya. Yang dia inginkan hanyalah teman yang mampu mendengarkan semua keluh kesahnya akan tetapi hingga saat ini pun ia belum juga mendapatkannya. Apalagi yang akan ia lakukan untuk mendapatkan teman. Segalanya telah ia lakukan. Ia bahkan rela menjual tugas kuliahnya sendiri demi menolong temannya sekaligus mendapatkan penghasilan demi keluarganya. Namun balasan yang ia dapatkan hanya makian dari teman-teman dan pemerasan dari ayahnya.

....

“Silakan dipikirkan lagi Pak, saya tidak punya waktu banyak. Ada banyak orang yang membutuhkan rumah ini,” kata Bu Erna pemilik kontrakan.

“Baik Bu, maafkan saya,” jawab Pak Hartono.

Sepulangnya ke rumah, ia kembali mendapatkan peringatan bahwa rumahnya akan segera di kontrakkan jika keluarganya tak mampu membayar. Tesha sangat kacau. Tesha merasa semakin kacau. Usaha apa lagi yang harus ia lakukan untuk menolong keluarganya. Ia kembali merenung namun sekejap khayalannya lenyap dengan suara bantingan pintu.

(Prakkkk)

“Mau tidak mau kita harus pindah ke rumah nenek dulu sampai kita punya uang,” kata Pak Hartono tengah mengatur nafas amarahnya.

“Bukannya rumah nenek terlalu kecil yah? Apa muat buat kita berlima?” tanya Tesha hati-hati.

“ya mau bagaimana lagi. Lagipula ini hanyalah ayah sudah tidak punya uang lagi,” katanya.

“Pak bagaimana kalau aku kos aja dekat kampus?” tanya Tesha.

“Apa katamu? Buat bayar kontrakan aja ayah ga punya uang. Ayah tidak bisa memberimu uang. Bukannya kamu yang harus kasih ayah uang?” kata Pak Hartono.

Tesha berlari mendapatkan pintu kamarnya. Ia tak mampu lagi melihat perlakuan ayahnya. Yang ia butuhkan saat ini ialah dukungan dari orang-orang yang dia sayangi. Ayahnya adalah sosok yang paling ia kasihi justru menjadi manusia yang sangat menyakiti hatinya. Ia merasa tak punya siapa-siapa. Bahkan untuk pulang mencurahkan isi hatinya pun ia tak punya. Ibunya tak cukup berani untuk melawan ayahnya. Tesha benar-benar merasa sendiri. Yang ada dalam pikirannya sekarang ialah ‘ayahnya membenci dirinya’. Ia berada di sekeliling orang yang tak mampu mengerti dan menerima dirinya. Ia selalu meyakinkan dirinya bahwa ia disayangi. Namun kepercayaan itu hilang seiring berjalannya waktu yang diisi dengan kesedihan dan luka yang mendalam. Sulit baginya untuk bangkit dari lukanya. Ia merasa bahwa dirinya terjebak dalam lautan manusia yang tak menyayangi dirinya. Ia membutuhkan sosok sahabat dan keluarga. Ia berada disekelilingnya namun dengan harapan yang sangat berbeda. Sebab ia merasa bahwa dirinya sedang sendiri dalam keramaian.


Written by Risma Rombe Pabesak

Sunday, November 18, 2018

Renungan Harian

Berubahlah Jika Ditegur
Keluaran 10 : 1-20

Wabah belalang merupakan sebuah ancaman di banyak tempat. Atas kehendak Tuhan, angin timur melintasi Mesir dan mendatangkan belalang. Jumlahnya tak terbilang hingga dicatat sampai menutupi tanah. Belalang sebanyak itu belum ada sebelumnya dan tidak akan ada lagi sesudahnya (14). Belalang itu memenuhi rumah orang di Mesir (6), tetapi tidak menghampiri tanah Gosyen. Mereka memakan habis sisa-sisa pohon dan tanaman yang hancur karena hujan es (5, 15). Lewat peristiwa ini, Allah kembali membuktikan kuasa-Nya di atas dewa Mesir.

Saturday, November 17, 2018

Renungan Harian

Malapetaka atau Sukacita?
Maleakhi 4 : 1-6

Alkitab menegaskan bahwa hari Tuhan itu pasti datang tanpa pembatalan. Hanya saja, tidak seorang pun mengetahui kapan saatnya tiba. Jadi, tidak perlu ada lagi keraguan tentang ini. Alkitab hari ini mengatakan, kedatangan-Nya akan didahului oleh pengutusan Nabi Elia (5). Dari prespektif Israel, itu dipahami sebagai cara Tuhan untuk mempersiapkan umat-Nya. Dia menyediakan waktu agar orang-orang percaya bertobat menjelang hari Tuhan itu (6). Kedatangan hari Tuhan dilukiskan sebagai malapetaka besar bagi orang-orang gegabah dan fasik. Mereka akan menjadi jerami yang terbakar habis (1).. Bahkan, akar dan cabang mereka pun akan sirna tak berbekas. Mereka akan menjadi seperti abu yang diinjak-injak. Gambaran itulah yang ditunjukkan nas ini untuk melukiskan kesudahan orang-orang jahat.

Renungan Harian

Jangan Patah Semangat!
Keluaran 7 : 14-15

Kita pasti pernah merasakan kegagalan dan patah semangat dalam kehidupan ini. Tentu saja cara kita menyikapinya beraneka ragam. Sebagian orang bisa langsung bangkit dan bersemangat. Akan tetapi, ada juga orang yang membutuhkan waktu lebih lama untuk keluar dari keterpurukan. Bahkan, ada orang yang larut tenggelam dalam penyesalan tiada akhir. Sebenarnya, semua respons itu tergantung pada sikap manusia kepada Tuhan.

Friday, November 16, 2018

Renungan Harian

Masih Suka Menyalahkan Orang Lain?
Maleakhi 2 : 17-35

Sifat manusia memang mudah untuk menyalahkan orang lain. Kita tentu ingat saat Adam jatuh ke dalam dosa. Ketika dihakimi Allah; Adam malah menyalahkan Hawa. Waktu Allah bertanya, Hawa menyalahkan iblis. Manusia senang menganggap diri benar sembari menyalahkan orang lain. Bahkan, saat menghadapi masalah besar, kita mungkin dengan lancang menyalahkan Allah. Kita berani menuding-Nya tidak mengasihi, tidak adil, tidak menepati janji, dan sebagainya.