Pages

Saturday, September 5, 2020

Sang Putri

 

Sang Putri

Risma Rombe Pabesak

“Bi, tolong bawain coklat kesukaanku.”

“Baik non. Ada lagi biar bibi ambilin sekalian?”

“Mau es krim stoberi juga ya bi.”

Yaa.. begitulah kisah hidup sang Putri di cerita yang didamba-dambakan Karin. Segala yang diinginkannya bisa datang dalam sekejam bahkan tanpa melakukan apapun. Sangat berbeda 180o dengan Karin. Bahkan untuk membayangkannya saja ia tidak berani.

Sejak kecil ia sudah terbiasa hidup sederhana. Orangtuanya adalah seorang petani yang harus banting tulang untuk menghidupi keluarganya.

“Bu, Karin juga mau sekolah seperti kakak.”

“Iya nak. Nanti kalau sudah ada uang ya.”

Lagi-lagi ucapan Karin menyayat hati Bu Ira. Ia bukannya pilih kasih dengan kedua putrinya itu. Tapi tidak ada pilihan lain. Ia sudah berusaha memberikan yang terbaik untuk kedua putrinya.

“Kariiin!”

Suara Cika memecahkan keheningan keduanya. Karin yang semula berada tepat di depan ibunya, sontak berlari menuju pintu untuk bertemu teman kecilnya itu.

“Ternyata Cika to?”

“Iya, main yukk di rumahku.”

“Buuu, Karin pamit main ke rumah Cika yaaa.”

“iyaa. Nanti pulangnya jangan terlalu sore yaa.”

Beruntungnya Cika datang di saat yang tepat. Bu Ira takut mengucapkan kalimat yang menyakiti hati putri bungsunya itu.

....

“Karin, ini boneka baruku. Karena ada dua, satunya buat kamu ya.”

“Beneran buat aku?” tanya Karin kegirangan.

“Iyaa.”

Dunia sang putri tidak hanya ada film-film. Ternyata ada di sekitar Karin juga. Sahabat sekaligus tetangganya itu juga begitu mudah mendapatkan apa yang diinginkan. Mereka sudah berteman sejak umur 2 tahun, tepatnya sejak 5 tahun yang lalu.

“Eh, anak papa lagi main apa sama Karin?”

“Main boneka om.”

Suara berat itu justru membuat senyum Cika yang tadinya ceria, perlahan hilang. Ia tidak suka mendengar suara itu. Kesibukan Pak Arya sejak kecil membuatnya tidak begitu dekat dengan Cika. Saking jarang bersama papanya, Cika marah setiap kali mendengar suaranya.

Sejak ibunya meninggal beberapa tahun yang lalu, ia hanya bersama papa dan pengasuhnya. Tapi papanya selalu saja sibuk dengan pekerjaannya. Berbeda dengan Karin yang punya ayah dan ibu yang selalu bersamanya.