Masih Suka Menyalahkan Orang Lain?
Maleakhi 2 : 17-35
Sifat manusia memang mudah untuk menyalahkan orang lain. Kita tentu ingat saat Adam jatuh ke dalam dosa. Ketika dihakimi Allah; Adam malah menyalahkan Hawa. Waktu Allah bertanya, Hawa menyalahkan iblis. Manusia senang menganggap diri benar sembari menyalahkan orang lain. Bahkan, saat menghadapi masalah besar, kita mungkin dengan lancang menyalahkan Allah. Kita berani menuding-Nya tidak mengasihi, tidak adil, tidak menepati janji, dan sebagainya.
Tampaknya, ada anggpan yang keliru dalam benak orang Israel tentang Allah. Mereka berpikir; Ia berkenan kepada orang jahat (17). Akibatnya, mereka cemburu melihat orang yang hidupnya jahat, tetapi hidup dengan nyaman. Sedangkan, mereka sendiri sekalipun sudah merasa hidup baik tetap menderita. Oleh karena itu, mereka mempertanyakan keadilan Allah itu. Mereka bertanya sinis, "Dimanakah Allah yang dianggap adil itu?" (17).
Menanggapi itu, Maleakhi tidak menghibur mereka. Sebaliknya, ia malah menegur dengan kecaman keras. Hidup kerohanian bangsa Israel sedang merosot. Itu disebabkan ulah para pemimpin yang tidak bertanggung jawab. Namun, inilah kondisi manusia yang berdosa. Sebenarnya, mereka sadar telah melakukan kesalahan dan melanggar hukum. Namun, mereka tetap berkelit dan tidak au dipersalahkan. Mereka merasa perbuatan mereka benar, sedangkan tindakan Allah salah.
Ketika mendung merundung nasib, kita mungkin masih sering mengeluh kepada Allah. Sebenarnya, mengeluh itu seperti seorang anak yang mengadu kepada ayahnya, asalkan tidak dilakukan dengan berlebihan. Penderitaan itu diperlukan untuk menempa iman. Kita perlu menyadari hal ini, sehingga hidup kita tidak lagi hanya untuk menyalahkan keadaan dan mencari pembenaran. Apalagi, jika kita lancang menyalahan Tuhan.
No comments:
Post a Comment