Dentingan
alarm yang berbunyi membuat Tesha beranjak dari tidurnya. Baru saja ia
memejamkan matanya, namun kicauan burung sudah terdengar. Fajar kali ini masih
saja tetap sama seperti hari kemarin. Ada gunda yang mendalam dalam hatinya
yang membuat ia kembali merenung.
“Chaca!!! Chaa!! Bangun dan siapkan
sarapan untuk bapak,” teriakan ayahnya membuat ia bangun dari alam pikirannya.
Segera setelah teriakan ayahnya hilang
dibalik langit-langit kamar, ia bergegas ke dapur dan menyiapkan sarapan untuk
ayah dan adik-adiknya. Ibunya sudah berangkat bekerja sebelum Tesha dan
adik-adiknya bangun.
Sejak kecil keluarga Tesha
memanggilnya Chaca. Ia adalah seorang mahasiswa semester 4 yang menjadi tulang
punggung keluarganya sejak ia berumur 17 tahun.
Tak mudah baginya untuk menjalani
hidup yang seperti itu. Semenjak perusahaan ayahnya bangkrut ia harus bekerja
keras membanting tulang untuk mencari nafkah. Ia menjadi seorang guru les yang
pendapatannya hanya cukup untuk menghidupi keluarga besarnya. Ayahnya belum
juga mendapatkan pekerjaan selama 3 tahun terakhir.
“Bapak suruh kamu memasak! Bukannya
ngelamun,” sentak ayahnya di depan pintu dapur.
“iya pak” jawabnya.
“Tia!! Fia! Ayo makan keburu dingin
makanannya,” teriak Pak Hartono ayah Tesha.
Tia dan Fia adalah adik dari Tesha.
Mereka adalah anak kembar yang kini berada di bangku SMP. Sejak dulu Tesha
merasa perlakuan ayahnya sangat berbeda jika bersama dengan kedua adiknya
dibandingkan saat bersamanya. Ayahnya sangat memanjakan kedua adiknya itu.
“Kapan kamu mulai ngelesin lagi?” tanya Pak Hartono.
“Besok yah liburan semester kan sudah
selesai,” jawab Tesha.
“Berapa orang? kamu harus bekerja
keras mulai sekarang, kontrak rumah kita akan habis bulan depan,” kata Pak
Hartono sambil menghabiskan kunyahan terakhirnya.
“iya yah sekarang tinggal 13 orang
soalnya yang kemarin udah pada lulus. Tapi nanti Chaca akan promosiin tempat
les ini lagi kok,” jawab Tesha.
Ia kembali membereskan piringnya dan
segera bersiap ke kampus. Sejujurnya ada gunda dalam hati Tesha. Rasanya ia
ingin berhenti kuliah dan bekerja bersama ibunya sebagai pelayan di sebuah
rumah makan padang. Upahnya tak banyak, jika dibanding dengan pendapatan Tesha
sebagai guru les. Namun, tak ada pilihan lain. Ibunya harus bekerja.
.....
Berat rasanya ia menginjakkan kaki di
depan gedung tempatnya berkuliah. Tempat yang membuatnya selalu ingin cepat
pulang. Lagi pula ia merasa tak pantas di sana. Hanya anak-anak dari jejeran
jas rapi dan mobil mewah yang ada di sana. Hanya ia sendiri saja. Seorang anak
yang berusaha melupakan bahwa ia pernah berada di jejeran orang tersebut.
Setiap memandang wajah-wajah itu, rasanya ia ingin segera kembali dan bekerja
saja.
“Tesha, bagaimana laporan beasiswamu,
Apakah kamu sudah mengumpulkannya?” tanya Pak Hadi.
“iya pak sudah saya antarkan ke TU
fakultas,” jawabnya.
“kalau begitu silakan antarkan absen
ini ke meja saya, ada yang perlu saya bicarakan dengan kamu,” lanjut Pak Hadi.
Langkah kaki Tesha menuju ruang dosen
mengiringi lamunannya. Ada banyak pertanyaan dalam hatinya. Apakah Pak Hadi
akan menanyakan tentang beasiswa atau bagaimana, ia juga tak tahu.
“Bagaimana Cha? Saya perlu klarifikasi
mengenai nilai ini?” tanya Pak Hadi.
Belum juga Tesha menjawab, Pak Hadi
sudah melanjutkan, “kamu adalah mahasiswa beasiswa Cha. Tidak pantas jika kamu
melakukan hal seperti itu. Bagaimana jika pihak fakultas tahu bahwa kamu sudah
beberapa kali melakukan plagiat pada beberapa tugasmu? Kamu bisa
dikeluarkan”.
“Iya pak saya tahu, saya minta maaf,”
jawab Tesha.
“Saya tidak mau mendengar alasan
seperti ini lagi. Saya tidak akan memberitahu dosen lain tapi ini adalah
kesempatan terakhirmu,” lanjut Pak Hadi.
Rasanya dunia ini tak adil. Rasa
gundah yang ada dalam hati Tesha semakin mendalam. Ia yang berusaha mati-matian
justru mendapat caci yang merobek hatinya. Hati itu mungkin sudah sekeras batu,
sudah sangat lama ia memendamnya. Langkah kakinya semakin berat menusuri
teras-teras kampus yang dipenuhi manusia yang berbeda dengannya. Baru saja ia
lepas dari Pak Hadi, ia harus mendengar cemoohan tak mendukung dari teman
sekelasnya.
“Dia itu sebenarnya kaya atau miskin
sih? Kok bisa orang kaya dia berada di sini?” sindir Cindy sih anak pengusaha
kaya raya yang sekelas dengan Tesha.
“Aku sih ga tahu,” jawab Mila yang
berada di dekat Cindy.
Cindy merasa dirinya sangat wajar
menghina orang seperti Tesha. Tak senang rasanya melihat cewek menarik dengan
kecerdasan yang luar biasa seperti Tesha. Ia merasa iri sebab Tesha sering
mendapat nilai yang jauh lebih baik daripada dirinya. Hal itulah yang
membuatnya selalu membeli jawaban dari semua tugas kuliahnya. Ia tahu bahwa
Tesha adalah orang yang sangat membutuhkan uang tapi ia berlaku seolah ia tak
tahu. Cindy adalah wanita yang licik sebab ia ingin menjatuhkan Tesha di depan
dosen dan teman-temannya.
Sudah berjalan hampir 2 tahun namun
Tesha tak juga menemukan teman yang mampu mengerti hidupnya. Yang dia inginkan
hanyalah teman yang mampu mendengarkan semua keluh kesahnya akan tetapi hingga
saat ini pun ia belum juga mendapatkannya. Apalagi yang akan ia lakukan untuk
mendapatkan teman. Segalanya telah ia lakukan. Ia bahkan rela menjual tugas
kuliahnya sendiri demi menolong temannya sekaligus mendapatkan penghasilan demi
keluarganya. Namun balasan yang ia dapatkan hanya makian dari teman-teman dan
pemerasan dari ayahnya.
....
“Silakan dipikirkan lagi Pak, saya tidak punya waktu banyak.
Ada banyak orang yang membutuhkan rumah ini,” kata Bu Erna pemilik kontrakan.
“Baik Bu, maafkan saya,” jawab Pak Hartono.
Sepulangnya ke rumah, ia kembali mendapatkan peringatan bahwa
rumahnya akan segera di kontrakkan jika keluarganya tak mampu membayar. Tesha
sangat kacau. Tesha merasa semakin kacau. Usaha apa lagi yang harus ia lakukan
untuk menolong keluarganya. Ia kembali merenung namun sekejap khayalannya
lenyap dengan suara bantingan pintu.
(Prakkkk)
“Mau tidak mau kita harus pindah ke rumah nenek dulu sampai
kita punya uang,” kata Pak Hartono tengah mengatur nafas amarahnya.
“Bukannya rumah nenek terlalu kecil yah? Apa muat buat kita
berlima?” tanya Tesha hati-hati.
“ya mau bagaimana lagi. Lagipula ini hanyalah ayah sudah tidak
punya uang lagi,” katanya.
“Pak bagaimana kalau aku kos aja dekat kampus?” tanya Tesha.
“Apa katamu? Buat bayar kontrakan aja ayah ga punya uang. Ayah
tidak bisa memberimu uang. Bukannya kamu yang harus kasih ayah uang?” kata Pak
Hartono.
Tesha berlari mendapatkan pintu kamarnya. Ia tak mampu lagi melihat perlakuan ayahnya. Yang ia butuhkan saat ini ialah dukungan dari orang-orang yang dia sayangi. Ayahnya adalah sosok yang paling ia kasihi justru menjadi manusia yang sangat menyakiti hatinya. Ia merasa tak punya siapa-siapa. Bahkan untuk pulang mencurahkan isi hatinya pun ia tak punya. Ibunya tak cukup berani untuk melawan ayahnya. Tesha benar-benar merasa sendiri. Yang ada dalam pikirannya sekarang ialah ‘ayahnya membenci dirinya’. Ia berada di sekeliling orang yang tak mampu mengerti dan menerima dirinya. Ia selalu meyakinkan dirinya bahwa ia disayangi. Namun kepercayaan itu hilang seiring berjalannya waktu yang diisi dengan kesedihan dan luka yang mendalam. Sulit baginya untuk bangkit dari lukanya. Ia merasa bahwa dirinya terjebak dalam lautan manusia yang tak menyayangi dirinya. Ia membutuhkan sosok sahabat dan keluarga. Ia berada disekelilingnya namun dengan harapan yang sangat berbeda. Sebab ia merasa bahwa dirinya sedang sendiri dalam keramaian.
Written by Risma Rombe Pabesak