Pages

Tuesday, August 18, 2020

Sendiri dalam Ramai

 

Dentingan alarm yang berbunyi membuat Tesha beranjak dari tidurnya. Baru saja ia memejamkan matanya, namun kicauan burung sudah terdengar. Fajar kali ini masih saja tetap sama seperti hari kemarin. Ada gunda yang mendalam dalam hatinya yang membuat ia kembali merenung.

          “Chaca!!! Chaa!! Bangun dan siapkan sarapan untuk bapak,” teriakan ayahnya membuat ia bangun dari alam pikirannya.

          Segera setelah teriakan ayahnya hilang dibalik langit-langit kamar, ia bergegas ke dapur dan menyiapkan sarapan untuk ayah dan adik-adiknya. Ibunya sudah berangkat bekerja sebelum Tesha dan adik-adiknya bangun.

          Sejak kecil keluarga Tesha memanggilnya Chaca. Ia adalah seorang mahasiswa semester 4 yang menjadi tulang punggung keluarganya sejak ia berumur 17 tahun.

          Tak mudah baginya untuk menjalani hidup yang seperti itu. Semenjak perusahaan ayahnya bangkrut ia harus bekerja keras membanting tulang untuk mencari nafkah. Ia menjadi seorang guru les yang pendapatannya hanya cukup untuk menghidupi keluarga besarnya. Ayahnya belum juga mendapatkan pekerjaan selama 3 tahun terakhir.

          “Bapak suruh kamu memasak! Bukannya ngelamun,” sentak ayahnya di depan pintu dapur.

          “iya pak” jawabnya.

          “Tia!! Fia! Ayo makan keburu dingin makanannya,” teriak Pak Hartono ayah Tesha.

          Tia dan Fia adalah adik dari Tesha. Mereka adalah anak kembar yang kini berada di bangku SMP. Sejak dulu Tesha merasa perlakuan ayahnya sangat berbeda jika bersama dengan kedua adiknya dibandingkan saat bersamanya. Ayahnya sangat memanjakan kedua adiknya itu.

          “Kapan kamu mulai ngelesin lagi?” tanya Pak Hartono.

          “Besok yah liburan semester kan sudah selesai,” jawab Tesha.

          “Berapa orang? kamu harus bekerja keras mulai sekarang, kontrak rumah kita akan habis bulan depan,” kata Pak Hartono sambil menghabiskan kunyahan terakhirnya.

          “iya yah sekarang tinggal 13 orang soalnya yang kemarin udah pada lulus. Tapi nanti Chaca akan promosiin tempat les ini lagi kok,” jawab Tesha.

          Ia kembali membereskan piringnya dan segera bersiap ke kampus. Sejujurnya ada gunda dalam hati Tesha. Rasanya ia ingin berhenti kuliah dan bekerja bersama ibunya sebagai pelayan di sebuah rumah makan padang. Upahnya tak banyak, jika dibanding dengan pendapatan Tesha sebagai guru les. Namun, tak ada pilihan lain. Ibunya harus bekerja.

.....

          Berat rasanya ia menginjakkan kaki di depan gedung tempatnya berkuliah. Tempat yang membuatnya selalu ingin cepat pulang. Lagi pula ia merasa tak pantas di sana. Hanya anak-anak dari jejeran jas rapi dan mobil mewah yang ada di sana. Hanya ia sendiri saja. Seorang anak yang berusaha melupakan bahwa ia pernah berada di jejeran orang tersebut. Setiap memandang wajah-wajah itu, rasanya ia ingin segera kembali dan bekerja saja.

          “Tesha, bagaimana laporan beasiswamu, Apakah kamu sudah mengumpulkannya?” tanya Pak Hadi.

          “iya pak sudah saya antarkan ke TU fakultas,” jawabnya.

          “kalau begitu silakan antarkan absen ini ke meja saya, ada yang perlu saya bicarakan dengan kamu,” lanjut Pak Hadi.

          Langkah kaki Tesha menuju ruang dosen mengiringi lamunannya. Ada banyak pertanyaan dalam hatinya. Apakah Pak Hadi akan menanyakan tentang beasiswa atau bagaimana, ia juga tak tahu.

          “Bagaimana Cha? Saya perlu klarifikasi mengenai nilai ini?” tanya Pak Hadi.

          Belum juga Tesha menjawab, Pak Hadi sudah melanjutkan, “kamu adalah mahasiswa beasiswa Cha. Tidak pantas jika kamu melakukan hal seperti itu. Bagaimana jika pihak fakultas tahu bahwa kamu sudah beberapa kali melakukan plagiat  pada beberapa tugasmu? Kamu bisa dikeluarkan”.

          “Iya pak saya tahu, saya minta maaf,” jawab Tesha.

          “Saya tidak mau mendengar alasan seperti ini lagi. Saya tidak akan memberitahu dosen lain tapi ini adalah kesempatan terakhirmu,” lanjut Pak Hadi.

          Rasanya dunia ini tak adil. Rasa gundah yang ada dalam hati Tesha semakin mendalam. Ia yang berusaha mati-matian justru mendapat caci yang merobek hatinya. Hati itu mungkin sudah sekeras batu, sudah sangat lama ia memendamnya. Langkah kakinya semakin berat menusuri teras-teras kampus yang dipenuhi manusia yang berbeda dengannya. Baru saja ia lepas dari Pak Hadi, ia harus mendengar cemoohan tak mendukung dari teman sekelasnya.

          “Dia itu sebenarnya kaya atau miskin sih? Kok bisa orang kaya dia berada di sini?” sindir Cindy sih anak pengusaha kaya raya yang sekelas dengan Tesha.

          “Aku sih ga tahu,” jawab Mila yang berada di dekat Cindy.

          Cindy merasa dirinya sangat wajar menghina orang seperti Tesha. Tak senang rasanya melihat cewek menarik dengan kecerdasan yang luar biasa seperti Tesha. Ia merasa iri sebab Tesha sering mendapat nilai yang jauh lebih baik daripada dirinya. Hal itulah yang membuatnya selalu membeli jawaban dari semua tugas kuliahnya. Ia tahu bahwa Tesha adalah orang yang sangat membutuhkan uang tapi ia berlaku seolah ia tak tahu. Cindy adalah wanita yang licik sebab ia ingin menjatuhkan Tesha di depan dosen dan teman-temannya.

          Sudah berjalan hampir 2 tahun namun Tesha tak juga menemukan teman yang mampu mengerti hidupnya. Yang dia inginkan hanyalah teman yang mampu mendengarkan semua keluh kesahnya akan tetapi hingga saat ini pun ia belum juga mendapatkannya. Apalagi yang akan ia lakukan untuk mendapatkan teman. Segalanya telah ia lakukan. Ia bahkan rela menjual tugas kuliahnya sendiri demi menolong temannya sekaligus mendapatkan penghasilan demi keluarganya. Namun balasan yang ia dapatkan hanya makian dari teman-teman dan pemerasan dari ayahnya.

....

“Silakan dipikirkan lagi Pak, saya tidak punya waktu banyak. Ada banyak orang yang membutuhkan rumah ini,” kata Bu Erna pemilik kontrakan.

“Baik Bu, maafkan saya,” jawab Pak Hartono.

Sepulangnya ke rumah, ia kembali mendapatkan peringatan bahwa rumahnya akan segera di kontrakkan jika keluarganya tak mampu membayar. Tesha sangat kacau. Tesha merasa semakin kacau. Usaha apa lagi yang harus ia lakukan untuk menolong keluarganya. Ia kembali merenung namun sekejap khayalannya lenyap dengan suara bantingan pintu.

(Prakkkk)

“Mau tidak mau kita harus pindah ke rumah nenek dulu sampai kita punya uang,” kata Pak Hartono tengah mengatur nafas amarahnya.

“Bukannya rumah nenek terlalu kecil yah? Apa muat buat kita berlima?” tanya Tesha hati-hati.

“ya mau bagaimana lagi. Lagipula ini hanyalah ayah sudah tidak punya uang lagi,” katanya.

“Pak bagaimana kalau aku kos aja dekat kampus?” tanya Tesha.

“Apa katamu? Buat bayar kontrakan aja ayah ga punya uang. Ayah tidak bisa memberimu uang. Bukannya kamu yang harus kasih ayah uang?” kata Pak Hartono.

Tesha berlari mendapatkan pintu kamarnya. Ia tak mampu lagi melihat perlakuan ayahnya. Yang ia butuhkan saat ini ialah dukungan dari orang-orang yang dia sayangi. Ayahnya adalah sosok yang paling ia kasihi justru menjadi manusia yang sangat menyakiti hatinya. Ia merasa tak punya siapa-siapa. Bahkan untuk pulang mencurahkan isi hatinya pun ia tak punya. Ibunya tak cukup berani untuk melawan ayahnya. Tesha benar-benar merasa sendiri. Yang ada dalam pikirannya sekarang ialah ‘ayahnya membenci dirinya’. Ia berada di sekeliling orang yang tak mampu mengerti dan menerima dirinya. Ia selalu meyakinkan dirinya bahwa ia disayangi. Namun kepercayaan itu hilang seiring berjalannya waktu yang diisi dengan kesedihan dan luka yang mendalam. Sulit baginya untuk bangkit dari lukanya. Ia merasa bahwa dirinya terjebak dalam lautan manusia yang tak menyayangi dirinya. Ia membutuhkan sosok sahabat dan keluarga. Ia berada disekelilingnya namun dengan harapan yang sangat berbeda. Sebab ia merasa bahwa dirinya sedang sendiri dalam keramaian.


Written by Risma Rombe Pabesak