Sang Putri
Risma Rombe Pabesak
“Bi, tolong bawain coklat kesukaanku.”
“Baik non. Ada lagi biar bibi ambilin sekalian?”
“Mau es krim stoberi juga ya bi.”
Yaa.. begitulah kisah hidup sang Putri di cerita
yang didamba-dambakan Karin. Segala yang diinginkannya bisa datang dalam
sekejam bahkan tanpa melakukan apapun. Sangat berbeda 180o dengan
Karin. Bahkan untuk membayangkannya saja ia tidak berani.
Sejak kecil ia sudah terbiasa hidup sederhana.
Orangtuanya adalah seorang petani yang harus banting tulang untuk menghidupi
keluarganya.
“Bu, Karin juga mau sekolah seperti kakak.”
“Iya nak. Nanti kalau sudah ada uang ya.”
Lagi-lagi ucapan Karin menyayat hati Bu Ira. Ia
bukannya pilih kasih dengan kedua putrinya itu. Tapi tidak ada pilihan lain. Ia
sudah berusaha memberikan yang terbaik untuk kedua putrinya.
“Kariiin!”
Suara Cika memecahkan keheningan keduanya. Karin
yang semula berada tepat di depan ibunya, sontak berlari menuju pintu untuk
bertemu teman kecilnya itu.
“Ternyata Cika to?”
“Iya, main yukk di rumahku.”
“Buuu, Karin pamit main ke rumah Cika yaaa.”
“iyaa. Nanti pulangnya jangan terlalu sore yaa.”
Beruntungnya Cika datang di saat yang tepat. Bu
Ira takut mengucapkan kalimat yang menyakiti hati putri bungsunya itu.
....
“Karin, ini boneka baruku. Karena ada dua, satunya
buat kamu ya.”
“Beneran buat aku?” tanya Karin kegirangan.
“Iyaa.”
Dunia sang putri tidak hanya ada film-film.
Ternyata ada di sekitar Karin juga. Sahabat sekaligus tetangganya itu juga
begitu mudah mendapatkan apa yang diinginkan. Mereka sudah berteman sejak umur
2 tahun, tepatnya sejak 5 tahun yang lalu.
“Eh, anak papa lagi main apa sama Karin?”
“Main boneka om.”
Suara berat itu justru membuat senyum Cika yang
tadinya ceria, perlahan hilang. Ia tidak suka mendengar suara itu. Kesibukan
Pak Arya sejak kecil membuatnya tidak begitu dekat dengan Cika. Saking jarang
bersama papanya, Cika marah setiap kali mendengar suaranya.
Sejak ibunya meninggal beberapa tahun yang lalu,
ia hanya bersama papa dan pengasuhnya. Tapi papanya selalu saja sibuk dengan
pekerjaannya. Berbeda dengan Karin yang punya ayah dan ibu yang selalu
bersamanya.
No comments:
Post a Comment