Aku, Bukan Dia
Risma Rombe Pabesak
“Lala!!”
“Sini duduk sini..”
Hmm. Lagi?, batinku.
Hari ini adalah hari pertama sekolah. Seperti biasa, aku harus berlari ke sana kemari untuk mencari ruang kelasku. Sebenarnya tidak terlalu jauh dari kelas 3, kelasku dulu. Hanya saja, aku terlalu malas untuk meladeni hal-hal seperti ini.
“Tidak papa. Aku duduk di sini aja”, jawabku sambil memaksakan secuil senyum di bibir mungilku.
“La!! Sini!”, ujar sih Tiara yang dari tadi menawarkan kursi di sampingnya.
“Aku di sini saja,” balasku mulai risih.
“Yaudah, aku aja yang pindah ke sini ya?”, katanya sembari memindahkan barang-barangnya.
“Hm”, jawabku singkat menandakan tak ingin banyak bicara dengannya.
….
Silahkan cari teman kelompoknya dan bawa alat-alatnya minggu depan.
Kalimat yang menandakan kelas hari ini sudah berakhir.
“Tiara! Aku masuk kelompokmu yaa”, kata Dimas sedikit berteriak karena selang beberapa kursi dari tempatku.
“Tidak. Tiara satu kelompok dengan kami”, kata Dinda sih anak nomor 5 dalam kelasku.
“Siapa yang mau dengan kalian? Aku satu kelompok dengan Lala kok”, kata Tiara tentu membuatku semakin tidak nyaman.
“Duluan ya”, kataku menghindari drama klasik itu.
Satu bulan kemudian
“Lala? Ada yang Ms bisa bantu?”, tanya Ms Shela, wali kelasku.
“Tidak apa-apa Ms, saya baik-baik saja. Saya ke kelas duluan ya Ms”, kataku sambil pamitan pada Ms Shela.
Nilai Larisa benar-benar semakin hari semakin anjlok. Kalau begini terus dia bisa tidak naik kelas lima nantinya. Jika ada orangtua siswa lain yang tahu, bisa-bisa mereka protes ke sekolah.
“Beri saya waktu sebentar lagi Pak,” kata-kata Ms Shela yang masih terdengar hingga aku benar-benar meninggalkan ruangan itu.
….
“Sesuai janji minggu lalu hari ini kita akan mengumpulkan pace satu hingga tiga,” ucap Ms Mila.
“La! Sst sttt!”, bisik Tiara di sampingku.
Aku sudah tahu maksudnya. Seperti biasa, aku harus memberikan pace yang sudah ku kerjakan dengan benar padanya. Sedangkan aku, harus menuliskan nama pada pacenya yang masih kosong. Itulah yang kurasakan selama dua tahun terakhir. Aku harus mengerjakan semua tugas, pace, ulangan untuk Tiara. Aku tidak punya cukup keberanian untuk mengatakannya pada guru. Karena selama ini, Tiaralah yang memberiku uang untuk jajan. Yah. Harusnya akulah yang dikenal sebagai anak nomor 1 di kelasku, Bukan Dia, Tiara.
No comments:
Post a Comment